serupa
pernahkah kamu merasakan suatu rasa yg blm pernah merasakan sehingga kamu sangat teramat sangat terganggu sampai tidak tahu apa nama rasa itu? mencoba untuk menggali rasa itu bukannya membuat lebih mengenali rasa itu apa, tetapi semakin seperti benang kusut. saya sedang merasakan rasa itu.
sampai kemudian saya berhadapan dengan cermin. dan disadari bahwa, menghadapinya sama seperti saya bbrp tahun yg lalu.
kami. serupa.
Belajar
Kembali mengulang.
Alif Ba Ta Tsa Jim Ha Kha Dal Dzal Ra Zay Sin Syin Shod Dhod Tho Zho ‘ain Ghain Fa Qaf Khaf Lam Mim Nun Wau Ha Lam alif Hamzah Ya
Bagaimana tulisan arab untuk ‘salat’? Apakah memakai sin, syin atau shod? Salat? Syalat? Atau sholat? Atau malah… Tsalat?
justasking
It’s Priceless
Malam ini saya menjelajahi kata demi kata di internet. Ada yang ingin saya bagi disini:
Beberapa tahun belakangan ini, jika mengenai orangtua, perasaan saya selalu campur aduk. Maklum, orangtua saya sudah tua. Rasa-rasanya masih banyak dosa dan hutang perilaku yang belum terbayarkan kepada mereka. Karena itulah, saya selalu berusaha untuk mengikuti kemauan mereka. Semampu saya.
Kira-kira sejam yang lalu saya ke gambir untuk melihat situasi mudik. Jam 11 malam, line loket cirebon express sudah penuh melebihi tengah ruangan. Tapi memang sih, para pengantri sambil tidur-tiduran gitu. Tapi tetap saja bikin saya syok melihatnya. kalau jam segitu saja orang-orang sudah ambil posisi ngantri, gimana nasib saya yang datangnya pagi? *tepok jidat*
Yasalam deh… Dengan tekad bulet (bukan toked bulet), saya akan mengantri setelah sahur!
Demi bertemu dengan orang yang saya sayangi. Demi menghabiskan waktu yang luang dengan mereka. Demi mendengar cerita-cerita mereka. Demi duduk sebelahan dengan mereka. Demi menikmati segala perilaku mereka. Demi orangtua.
Ya. Demi mereka saya rela berjuang mendapatkan tiket mudik. Meskipun harus ngantri sampai sore, harga tiket mahal, berdesak-desakan dengan bau-bau ketek keringat dan lainnya, tapi buat saya, waktu berkumpul dengan orangtua, apalagi ketika lebaran, sangat sangat priceless.
Tidak istimewa, tetapi penting?
Malaikat pencabut nyawa turun ke bumi untuk menjalankan tugasnya. Ia bertemu dengan orang-orang yang sudah dipastikan akan mati. Sebelum menjalankan tugasnya, ia selalu bertanya dengan mereka, “bagaimana menurutmu tentang kematian?” Dan ketika ia menghampiri mereka, hujan pun turun terus menerus.
Suatu hari ia bertugas untuk mencabut nyawa seorang wanita tua. Wanita tua ini tinggal di sebuah bukit dekat dengan pantai. Seperti hari-hari ia bertugas lainnya, hujan turun deras. Alih-alih menjawab pertanyaan si malaikat, wanita tua itu bertanya balik kepadanya, “bagaimana menurutmu tentang kematian?”. Si malaikat menjawab, tidak ada yang istimewa dari kematian. Begitu juga dengan kehidupan. Setiap orang yang hidup suatu saat akan mati.
Wanita itu berkata, jika kau memandang kematian sama tidak istimewanya dengan kehidupan, engkau tidak salah. Karena kaulah yang mengambil nyawa. Akan tetapi, jika kau melihat perjalanan hidup dari orang tersebut, maka engkau akan melihat bahwa hidupnya sangatlah penting. Sama seperti matahari. Tidak ada yang istimewa dari matahari. Akan tetapi, manfaat matahari sangat banyak.
Tidak istimewa, tetapi penting?
Filosofi tentang hidup dan mati di film ini membuat saya termenung. Bagaimana sesuatu yang tidak istimewa itu penting?
Saya jadi ingat. Tadi sore saya membaca sebuah blog yang bilang bahwa bagi penulis, lemper, pastel dan telor rebus sangat istimewa. Istimewa memang tak selalu harus luar biasa.
As simple as that.
Note :
Accuracy of Death (2008) Directed by Masaya Kakei. With Takeshi Kaneshiro, Manami Konishi, Sumiko Fuji, Mitsuru Fukikoshi. Sama seperti film-film jepang lainnya, mengangkat tema yang sederhana namun penonton mendapatkan sesuatu dari film tersebut.
Be Grateful
Saya percaya bahwa hidup itu seperti roller coaster - naik turun, belokan tajam, berputar, semua dilakukan dengan kecepatan tinggi tanpa ada petunjuk sedikitpun. Begitupun dengan hidup.
Kita tidak pernah tahu kapan, bagaimana, dan apa rencana Tuhan. Cuma bisa pasrah dan kemudian bangkit mengejar ketinggalan hidup. Bukan malah menyelam dalam kubangan keterpurukan. Dan jika kehidupan berada di titik terendah, cobalah lihat sekeliling. Masih ada orang-orang yang hidupnya dibawah titik terendahmu. Jika masih belum bisa menemukan orang-orang tersebut, cobalah lihat dengan sudut pandang yang berbeda.
Tidak perlu mengeluh. Untuk apa? Bukankah semua keputusan yang kita ambil ada embel-embel konsekuensinya? Seperti halnya ketika kita dihadapkan 2 pilihan. Sebelum memilih, pikirkan baik-baik, apa konsekuensi yang didapat ketika memilih A atau B, dan apa konsekuensi yang didapat ketika tidak memilih A atau B. Karena, ketika menjalani hal yang sudah kita pilih, kita tidak perlu menyesal karena tidak memilih anu kemudian mengeluh terus menerus tentang hal ini. It’s useless. Atau ketika kita memilih mobil. Konsekuensi memakai mobil di jalanan ibukota ini adalah: kena macet, biaya bensin, biaya ke bengkel, belum lagi ban pecah ketika sedang jalan, etc. so, why did you have to complain about traffic whatsoever?
Be grateful.
Bersyukur karena masih mendapat gaji setiap bulan. Bersyukur masih bisa makan enak meskipun karena tante mengadakan acara di rumah. Bersyukur masih bisa liburan meskipun hanya di rumah. Bersyukur bisa beli gadget walaupun bukan yang mahal well at least dari penghasilan sendiri. Bersyukur sudah mampu mempunyai motor, karena masih banyak orang-orang di pedalaman harus berjalan kaki selama 2 jam untuk berjualan di pasar. Bersyukur tinggal di Indonesia, dekat dengan keluarga dan kerabat.
Bukan hidup namanya jika kita mendapatkannya dengan mudah. Lets stop complaining about something.
ps :
Sorry. I don’t follow complaints people on socmed.
Follow Me!
Jadi, ketika menunggu buka puasa hari ini, saya iseng-iseng meng-update about.me . Setelah menambahkan services yang terhubung di site tersebut, i realized, blog yang saya punyai tidak cuma satu, tetapi pabalatak dimana-mana. Nggak cuma blogspot, saya masih punya tumblr, posterous, meme, etc. Belum lagi blog khusus project yang menggunakan engine wordpress. Sungguh menyedihkan.
Lalu saya berpikir, bagaimana jika mulai hari ini saya berusaha untuk meng-update mereka semua? At least blogspot, tumblr, poseterous, dan blog project. Nggak terlalu banyak, kan? Sekalian menjadi ajang belajar menulis karena menurut saya, kemampuan menulis saya sudah menurun banyak. Mengingat saya mengikuti 2 mikro blog yang terkenal : plurk dan twitter yang memadatkan blog menjadi hanya 140 karakter saja. Walaupun sebenarnya kekurangan dari dua media sosial ini adalah orang-orang menjadi ahli dalam menyingkat kalimat :D
Oya, ngomong soal blog, bulan kemaren saya resmi menjadi kontributor GoodNewsFromIndonesia. Namun sebulan ini saya masih cuma mencari berita-berita bagus dari negeri ini (bukan menulis). Alasannya sungguh klise, kesibukan di dunia kerja dan project. Tapi tentunya, saya berjanji untuk menulis, apalagi GNFI telah melakukan kerjasama dengan MSN. Sungguh sayang jika saya melewatkan kesempatan ini, kan?
Baiklah. Mari semangat menulis!

